Download materi : https://drive.google.com/drive/folders/1R7-y3NdzwY2vNk5rXLnBMgmOCQz42V1o?usp=sharing
Sekolah Pascasarjana UNITRI kembali menghadirkan kegiatan Kuliah Tamu inspiratif dengan tema “Digital Marketing di Era Society 5.0 dalam Rangka Pelaksanaan Urban Farming pada Kelompok Tani Muda Milenial (Perspektif Manajemen dan Ekonomi Pertanian)” Kegiatan ini menjadi wadah strategis dalam memperkaya wawasan mahasiswa pascasarjana mengenai pemanfaatan teknologi digital dan strategi pemasaran modern untuk mendukung pengembangan urban farming yang inovatif, produktif, dan berdaya saing.Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam sistem kehidupan masyarakat global. Era Society 5.0 hadir sebagai konsep integratif yang menggabungkan kemajuan teknologi digital dengan kebutuhan manusia untuk menciptakan kehidupan yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan. Dalam era ini, teknologi seperti artificial intelligence (AI), big data, internet of things (IoT), dan sistem berbasis cloud tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi menjadi bagian dari sistem pengambilan keputusan dalam berbagai sektor, termasuk sektor pertanian.
Kuliah tamu ini diselenggarakan untuk memberikan pemahaman mendalam kepada mahasiswa mengenai bagaimana digital marketing dapat menjadi instrumen strategis dalam mendukung pelaksanaan urban farming, khususnya pada kelompok tani muda milenial, ditinjau dari perspektif manajemen dan ekonomi pertanian. Kegiatan ini menjadi ruang akademik yang mengintegrasikan teori, kebijakan, serta praktik lapangan secara komprehensif.
Relevansi Urban Farming dalam Dinamika Perkotaan Modern
Urban farming atau pertanian perkotaan merupakan model produksi pangan yang dilakukan di wilayah perkotaan dengan memanfaatkan lahan terbatas secara optimal dan produktif. Di tengah meningkatnya alih fungsi lahan, pertumbuhan penduduk kota, serta tingginya ketergantungan pasokan pangan dari daerah luar, urban farming hadir sebagai solusi strategis untuk memperkuat ketahanan pangan lokal.
Urban farming tidak sekadar aktivitas bercocok tanam di pekarangan, tetapi merupakan sistem produksi yang terencana dan terkelola secara profesional. Implementasinya dapat berbentuk hidroponik, vertikultur, aquaponik, rooftop farming, greenhouse skala kecil, hingga pemanfaatan lahan tidur di kawasan pemukiman.
Beberapa alasan mengapa urban farming menjadi sangat relevan di era Society 5.0 antara lain:
-
Optimalisasi lahan terbatas secara produktif dan berkelanjutan, sehingga ruang-ruang yang sebelumnya tidak termanfaatkan dapat menghasilkan nilai ekonomi.
-
Penguatan ketahanan pangan lokal, dengan memproduksi pangan segar di dalam kota untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
-
Peningkatan akses masyarakat terhadap pangan sehat, segar, dan berkualitas, khususnya sayuran dan hortikultura.
-
Pengurangan panjangnya rantai distribusi pangan, sehingga harga lebih stabil dan margin keuntungan produsen meningkat.
-
Peluang kewirausahaan bagi generasi muda, karena urban farming dapat dikembangkan sebagai usaha agribisnis berbasis teknologi.
Urban farming pada akhirnya menjadi bagian dari strategi pembangunan kota berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Dukungan Kebijakan dan Model Implementasi
Keberhasilan urban farming sangat dipengaruhi oleh dukungan kebijakan pemerintah daerah. Salah satu contoh daerah yang menunjukkan komitmen terhadap pengembangan pertanian modern adalah Kota Batu, yang menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu prioritas pembangunan.
Penguatan urban farming di daerah tersebut didukung melalui berbagai instrumen kebijakan, antara lain:
-
RPJPD Kota Batu 2025–2045, yang menempatkan pertanian sebagai sektor strategis dalam pembangunan jangka panjang.
-
Peraturan Daerah RTRW, yang menjamin perlindungan ruang pertanian dan ruang terbuka hijau.
-
Raperda LP2B (Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan), sebagai instrumen pengendalian alih fungsi lahan.
-
Program “Abang Tani” (Petani Milenial), yang dirancang untuk mendorong regenerasi petani muda melalui pelatihan, pendampingan, dan integrasi teknologi.
-
Smart Integrated Farming, yaitu sistem pertanian terpadu berbasis teknologi dengan prinsip efisiensi sumber daya dan zero waste.
-
Pemanfaatan aplikasi digital dan platform online, untuk mendukung pemasaran, informasi harga, dan komunikasi antara produsen dan konsumen.
Model tersebut menunjukkan bahwa transformasi pertanian memerlukan sinergi antara regulasi, inovasi teknologi, dan partisipasi generasi muda.
Digital Marketing sebagai Pilar Penguatan Urban Farming
Dalam era Society 5.0, pemasaran menjadi faktor penentu keberhasilan usaha tani. Digital marketing diposisikan sebagai instrumen strategis yang menghubungkan produksi dan konsumsi secara lebih efektif.
Digital marketing dalam konteks urban farming memiliki peran penting sebagai berikut:
-
Efisiensi biaya pemasaran, karena promosi dilakukan melalui media sosial, marketplace, dan platform digital tanpa memerlukan biaya distribusi besar.
-
Perluasan jangkauan pasar tanpa batas geografis, sehingga produk dapat dipasarkan ke segmen yang lebih luas.
-
Pembangunan branding produk pertanian sebagai produk sehat, organik, lokal, dan ramah lingkungan, yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
-
Direct selling dari produsen ke konsumen, yang mempersingkat rantai distribusi dan meningkatkan margin keuntungan.
-
Pemanfaatan data pelanggan untuk perencanaan produksi berbasis permintaan (demand-driven production), sehingga risiko kelebihan produksi dapat diminimalkan.
-
Peningkatan transparansi usaha melalui konten edukatif, seperti dokumentasi proses budidaya, panen, dan pengemasan untuk membangun kepercayaan konsumen.
Melalui digital marketing, petani milenial tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga sebagai pengelola brand, komunikator, dan pelaku usaha agribisnis berbasis teknologi.
Perspektif Manajemen dalam Pengelolaan Urban Farming
Keberhasilan urban farming sangat dipengaruhi oleh penerapan fungsi manajemen yang sistematis dan terukur. Dari perspektif manajemen, terdapat empat fungsi utama yang harus diterapkan:
-
Perencanaan (Planning): mencakup analisis pasar, segmentasi konsumen, perencanaan produksi, perhitungan biaya, serta penyusunan strategi pemasaran digital.
-
Pengorganisasian (Organizing): pembagian tugas dalam kelompok tani, mulai dari produksi, pemasaran digital, keuangan, hingga distribusi.
-
Pelaksanaan (Actuating): implementasi strategi produksi dan pemasaran sesuai rencana yang telah disusun.
-
Pengawasan (Controlling): evaluasi kinerja usaha melalui analisis data penjualan, biaya operasional, dan kepuasan pelanggan.
Pendekatan manajemen yang baik memungkinkan usaha urban farming berjalan secara profesional dan berkelanjutan.
Perspektif Ekonomi Pertanian dan Dampak Finansial
Dari sudut pandang ekonomi pertanian, integrasi digital marketing dalam urban farming memberikan dampak signifikan terhadap struktur biaya dan pendapatan.
Beberapa implikasi ekonominya meliputi:
-
Peningkatan nilai tambah produk, melalui kemasan modern, diferensiasi, dan branding.
-
Pemendekan rantai distribusi, sehingga biaya logistik menurun dan harga lebih kompetitif.
-
Stabilisasi pendapatan petani melalui sistem pre-order dan pelanggan tetap, yang mengurangi risiko fluktuasi pasar.
-
Diversifikasi produk, seperti olahan hortikultura atau paket sayuran sehat, untuk meningkatkan variasi sumber pendapatan.
-
Penggunaan data digital untuk pengambilan keputusan ekonomi yang lebih rasional dan efisien.
Pendekatan ini menjadikan urban farming sebagai model agribisnis modern yang berbasis efisiensi dan keberlanjutan.
Peran Mahasiswa sebagai Generasi Agripreneur Digital
Kuliah tamu ini memberikan pesan kuat bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam transformasi pertanian modern. Generasi muda memiliki keunggulan dalam literasi digital, kreativitas konten, serta kemampuan adaptasi terhadap teknologi.
Mahasiswa diharapkan mampu:
-
Mengembangkan pola pikir agripreneur berbasis teknologi.
-
Mengintegrasikan teori manajemen dan ekonomi pertanian dalam praktik nyata.
-
Memanfaatkan media digital sebagai sarana pemasaran produk pertanian.
-
Berkontribusi dalam penguatan ketahanan pangan berbasis komunitas.
-
Menjadi agen perubahan dalam modernisasi sektor pertanian.
Pertanian masa depan membutuhkan generasi yang tidak hanya memahami budidaya, tetapi juga menguasai manajemen, teknologi, dan strategi bisnis.
Penutup
Kuliah tamu “Digital Marketing di Era Society 5.0 dalam Rangka Pelaksanaan Urban Farming pada Kelompok Tani Muda Milenial” memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai pentingnya integrasi teknologi digital, manajemen usaha, kebijakan publik, dan semangat kewirausahaan dalam pembangunan pertanian modern.
Transformasi menuju pertanian berbasis digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis dalam menghadapi dinamika global. Dengan dukungan kebijakan yang progresif, seperti yang dicontohkan di Kota Batu, serta keterlibatan aktif generasi muda, urban farming dapat berkembang menjadi model pertanian yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk melihat pertanian sebagai sektor masa depan yang inovatif, adaptif, dan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.
Dokumentasi


